Hukum Mengajar
Al-Qur`an Bagi Yang Berhalangan
﴿ حكم تدريس القرآن للمعلمة صاحبة العذر
الشرعي ﴾
] Indonesia – Indonesian – [ إندونيسي
Syaikh
Abdullah bin Jibrin rahimahullah
Terjemah : Muhammad
Iqbal A. Gazali
﴿ حكم تدريس القرآن للمعلمة صاحبة
العذر الشرعي ﴾
« باللغة الإندونيسية »
الشيخ عبد الله
بن عبد الرحمن الجبرين رحمه الله
ترجمة: محمد إقبال أحمد
غزالي
مراجعة: أبو زياد إيكو هاريانتو
بسم الله الرحمن الرحيم
Hukum Mengajar
Al-Qur`an Bagi Yang Berhalangan
Syaikh
Abdullah bin Jibrin rahimahullah
Pertanyaan: Apabila
guru al-Qur`an sedang haid atau nifas, bagaimana ia mengajar al-Qur`an bagi
para siswi nya?
Jawaban: Biasanya
wanita yang sedang nifas diberikan cuti selama masa nifas, sama saja baik ia
seorang guru atau siswi. Apabila ia terpaksa mengajar atau belajar, ia bisa
menjaga bacaan siswi dan mendengarkan mereka. Di saat keliru, ia membetulkan
kesalahan dengan kata-kata atau isyarat. Ia boleh meletakkan mushhaf di atas
meja dan membalik lembaran dengan kayu kecil dan semisalnya. Kemudian siswi
meneruskan bacaan dengan memandang pada mushhaf dan ia duduk di atas kursi,
atau di atas meja, bersama temannya. Hal itu berdasarkan hadits yang berbunyi:
قال
رسول الله e : (لاَ يَقْرَأُ الْجُنُبُ وَلاَ الْحَائِضُ
شَيْئًا مِنَ الْقُرْآنِ )
Rasulullah
Salallahu’alaihi
wassalam bersabda: 'Orang yang junub dan wanita yang haid
tidak boleh membaca al-Qur`an."[1]
Diriwayatkan oleh Ahshabus Sunan dan dipandang gharib oleh at-Tirmidzi dan ia
menyebutkan bahwa ia adalah pendapat kebanyakan ulama dari kalangan sahabat dan
tabiin serta ulama generasi sesudahnya.
Akan tetapi sebagian ulama
membolehkan bagi yang haid untuk membaca al-Qur`an bila ia takut lupa terhadap
hapalan yang akan di ujikan atau materi mengajar yang wajib, dan ia boleh
membaca sebagian ayat sebagaimana boleh berzikir dan berdoa dengan ayat-ayat
yang disebutkan dalam wirid. Dan hal itu karena hadits-hadits yang melarang
membaca al-Qur`an bagi yang junub dan haid tidak terlepas dari perselisihan,
karena itulah
sebagian ulama berbeda pendapat baik secara terbuka atau isyarat. Wallahu
A'lam.
Syaikh
Abdullah bin Jibrin – Jawaban-jawaban fikih terhadap pertanyaan pendidikan dan
pengajaran. Hal. 104-105, disusun oleh Abdul Aziz al-Musainid.
[1] HR. At-Tirmidzi 131, Ibnu Majah 595 dan 596,
ad-Daraquthni 1/117-118, 2/87, al-Baihaqi dalam al-Kubra 422, 1375.. sebagian
ulama menshahihkan hadits ini seperti Syaikh Ahmad Syakir dalam ta'liqnya
terhadap Sunan at-Tirmidzi 1/237, 138 (131) dan didha'ifkan oleh Syaikh Albani
dalam Irwaul Ghalil 1/206-210 (192). Lihat: Talkhisul Khabir 1/138 (183) dan
Faidhul Qadir (6/543-544).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar