Sumber ajaran Islam pertama dan kedua (Al-Quran dan Hadits/As-Sunnah)
langsung dari Allah SWT dan Nabi Muhammad Saw. Sedangkan yang ketiga
(ijtihad) merupakan hasil pemikiran umat Islam, yakni para ulama mujtahid (yang berijtihad), dengan tetap mengacu kepada Al-Quran dan As-Sunnah.
Kamis, 27 Maret 2014
Sumber Ajaran Islam: Al-Quran, Hadits, Ijtihad
SUMBER Ajaran Islam itu ada tiga, yakni Al-Quran, Hadits (As-Sunnah),
dan Ijtihad. Ajaran yang tidak bersumber dari ketiganya bukan ajaran
Islam.
Partai Allah vs Partai Setan
DALAM dunia politik Indonesia
dikenal istilah partai nasionalis dan Partai Islam. Partai nasionalis
adalah partai politik yang berideologi Pancasila. Partai Islam adalah
partai politik yang berideologi Islam dan berbasis massa ormas Islam.
Dalam risalah Islam juga dikenal dua jenis partai (golongan), yakni Partai Allah (Hizbullah) dan Partai Setan (Hizbusy Syayathin).
Al-Quran menyebutkan karakteristik atau ciri-ciri partai Allah dan partai setan itu antara lain dalam QS. Al-Mujadalah.
Dalam risalah Islam juga dikenal dua jenis partai (golongan), yakni Partai Allah (Hizbullah) dan Partai Setan (Hizbusy Syayathin).
Al-Quran menyebutkan karakteristik atau ciri-ciri partai Allah dan partai setan itu antara lain dalam QS. Al-Mujadalah.
Pengertian Tahayul, Bid'ah, dan Khurafat (TBC)
Tahayul, Bid'ah, dan Khurafat (TBC) adalah "tiga sekawan
kebatilan" yang masih hidup di kalangan umat Islam. Islam melarang
ketiganya. Berikut ini Pengertian Tahayul, Bid'ah, dan Khurafat yang diolah Risalah Islam dari berbagai sumber terpercaya.
PENGERTIAN TAHAYUL
Ada kepercayaan yang sampai kini masih melekat dalam diri sebagian umat Islam di tanah air tentang bulan Safar, yaitu bahwa bulan Safar adalah bulan naas, bulan yang penuh kesialan. Alasannya, kata Safar berarti sejenis penyakit di dalam perut, berbentuk ulat besar yang dapat membunuh.
PENGERTIAN TAHAYUL
Ada kepercayaan yang sampai kini masih melekat dalam diri sebagian umat Islam di tanah air tentang bulan Safar, yaitu bahwa bulan Safar adalah bulan naas, bulan yang penuh kesialan. Alasannya, kata Safar berarti sejenis penyakit di dalam perut, berbentuk ulat besar yang dapat membunuh.
Rabu, 26 Maret 2014
Hadits Dha’if, Musnad, Muttashil, Marfu’ dan Mauquf
Hadits Dhaif
Ibnu Shalah berkata:
Ibnu Shalah berkata:
وهو ما لم يجتمع فيه صفات الصحيح، ولا
صفات الحسن المذكورة كما تقدم
“Hadits
Dhaif adalah hadits yang tidak memiliki seluruh sifat hadits shahih, atau
tidak memiliki seluruh sifat hadits hasan yang telah dijelaskan”
Lalu beliau
menyebutkan jenis-jenis hadits dhaif ditinjau dari jumlah sifat yang kurang
sehingga tidak mencapai derajat shahih atau hasan, baik satu atau semua sifat.
Dengan tinjauan tersebut, beliau membagi hadits dhaif menjadi:
- Maudhu’ (الموضوع)
- Maqlub (المقلوب)
- Syadz (الشاذ)
- Mu’allal (المعلل)
- Mutharib (المضطرب)
- Mursal (والمرسل)
- Munqathi’ (والمنقطع)
- Mu’dhal (والمعضل)
- Dll
Hadits
Musnad
Ibnu Shalah berkata:
Ibnu Shalah berkata:
قال الحاكم: هو ما اتصل إسناده إلى رسول الله صلى
الله عليه وسلم.
وقال الخطيب: هو ما اتصل
إلى منتهاه.
وحكي ابن عبد
البر:
أنه المروي
عن رسول الله صلى الله عليه وسلم، وسواء كان متصلاً أو منقطعاً. فهذه أقوال
ثلاثة
- Al Hakim mengatakan bahwa hadits musnad adalah hadits yang bersambung sanadnya sampai kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam
- Al Khatib mengatakan bahwa hadits musnad adalah hadits yang bersambung sanadnya hingga akhir sanad
- Ibnu ‘Abdil Barr mengabarkan bahwa hadits musnad adalah hadits yang diriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, baik bersambung maupun terputus sanadnya.
Inilah tiga
pendapat tentang definisi hadits musnad.
Hadits
Muttashil
Ibnu Shalah berkata:
Ibnu Shalah berkata:
ويقال له: ” الموصول ” أيضاً، وهو ينفي الإرسال والانقطاع،
ويشمل لمرفوع إلى النبي صلى الله عليه وسلم، والموقوف على الصحابي أو من دونه
“Hadits
Muttashil disebut juga hadits maushul, yaitu hadits yang tidak
terdapat irsal dan tidak terputus sanadnya. Hadits muttashil
mencakup hadits marfu’ dan hadits mauquf”
Hadits
Marfu’
Ibnu Shalah berkata:
Ibnu Shalah berkata:
هو ما أضيف إلى النبي صلى الله عليه
وسلم قولاً أو فعلاً عنه، وسواء كان متصلاً أو منقطعاً أو مرسلاً، ونفي الخطيب أن
يكون مرسلاً، فقال: هو ما أخبر فيه الصحابي عن رسول الله
صلى الله عليه وسلم
“Hadits marfu’
adalah hadits yang disandarkan kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam,
baik berupa perkataan maupun perbuatan, baik muttashil maupun munqathi’
atau mursal. Namun Al Khatib menyatakan bahwa hadits marfu’ tidak
boleh mursal, dengan berkata: ‘Hadits marfu’ adalah hadits yang
di dalamnya terdapat sahabat yang mengabarkan dari Rasulullah Shallallahu’alaihi
Wasallam‘”
Hadits
Mauquf
Ibnu Shalah berkata:
Ibnu Shalah berkata:
ومطلقه يختص بالصحابي، فيمن دونه إلا
مقيداً.
وقد يكون
إسناده متصلاً وغير متصل،
“Hadits mauquf
jika disebut secara mutlak, maksudnya hadits shahabat. Jika dimaksudkan untuk
selain shahabat, disebutkan secara muqayyad. Hadits mauquf kadang sanadnya
bersambung dan kadang tidak bersambung.
Menurut Ibnu
Katsir, mayoritas ahli fiqih dan ahli hadits menyebut hadits mauquf dengan
isitilah ‘atsar’. Ibnu Shalah menguatkan bahwa ini berasal dari para ulama
Khurasan, mereka menyebut hadits mauquf dengan istilah atsar”
Ibnu Shalah
berkata:
وبلغنا عن أبي القاسم الفوراني أنه
قال:
الخبر ما كان
عن رسول الله صلى الله عليه وسلم، والأثر ما كان عن الصحابي
“Ada yang
menyampaikan kepada kami dari Abul Qasim Al Faurani, ia berkata: ‘Hadits dari
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam disebut khabar, hadits
dari para sahabat disebut atsar‘”
Menurut Ibnu
Katsir, inilah mengapa banyak para ulama yang menamai kitab Jami’nya dengan ‘As
Sunan Wal Atsar‘. Sebagaimana kitab ‘As Sunan Wal Atsar‘ milik Ath
Thahawi dan Al Baihaqi, juga selain mereka. Wallahu’alam.
(Al
Ba’its Al Hatsits, Al Imam Abul Fida’ Ibnu Katsir rahimahullah)
Sabtu, 22 Maret 2014
KHAWARIJ KONTEMPORER
Pada abad ini, sungguh pemikiran takfir telah tersebar begitu
dahsyat, kekuatannya melampaui abad-abad sebelumnya. Pemikiran takfir
tersebar ditengah-tengah kaum muslimin, sehingga penyakit ini
menjangkiti begitu banyak orang yang sebelumnya tidak dikenal banyak
melakukan bid’ah. Di antara sumber dan sebab tersebarnya adalah sebagian
kelompok dakwah modern yang asasnya bukan sunnah (ajaran) Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan bercampur aduk di dalamnya
berbagai bid’ah dan kesesatan, baik dikarenakan buruknya tujuan
pendirinya, maupun karena kebodohan mereka tentang agama.
Kemudian
muncullah banyak buku hasil produksi kelompok-kelompok tersebut, yang
dikenal dengan buku-buku pemikiran. Buku-buku tersebut telah merusak
aqidah sejumlah besar kaum muslimin, sehinga menyelewengkan mereka dari
ajaran agama. Buku-buku tersebut menilai bahwa masyarakat muslim dewasa
ini adalah masyarakat jahiliyyah dan kafir, karena mereka telah membuang
Islam kebelakang punggung mereka, dan mereka telah memeluk kekufuran
yang nyata, dan tidak ada seorangpun, diantara individu-idividu umat
yang selamat dari vonis kafir ini, baik pemerintah maupun rakyatnya,
baik laki-laki maupun perempuan, baik tua maupun muda.
Fenomena
ini memiliki peran terbesar, dalam mewujudkan generasi abad ini yang
terdidik berdasarkan kepada buku-buku tersebut, hingga bibit-bibit ide
untuk mengkafirkan seluruh masyarakat Islam dewasa ini tertanam di dalam
jiwa-jiwa mereka, sehingga kesesatan tersebut menjadi suatu keyakinan
yang kokoh bagi mereka, dan tidak perlu ditanyakan lagi tentang fitnah
dan keburukan yang akan muncul dari balik keyakaninan ini.
Saya
tidak ingin memperbanyak dalam memberikan permisalan dari buku
tersebut, tentang teks dan perkataan mengenai pengkafiran masyarakat
Islam dewasa ini, akan tetapi saya hanya ingin menyebutkan sebagian
contoh dan bukti yang ada di dalam buku-buku Sayyid Quthub rahimahullah,
karena dialah Imam yang diagungkan oleh mayoritas Ikhwanul Muslimin dan
orang-orang yang terpengaruh dengan manhaj mereka, terlebih lagi buku
orang ini paling luas penyebarannya, dan paling kuat pengaruhnya, jika
dibandingkan dengan buku-buku lain yang sejenis, sampai-sampai sebagian
orang yang menisbatkan diri mereka kepada sunnah, terfitnah oleh
buku-bukunya. Pada hakekatnya, buku-buku Ikhwanul Muslimin penuh dengan
ungkapan-ungkapan pengkafiran pemerintah dan masyarakat muslim dewasa
ini.
Diantara teks pengkafiran Sayyid Quthub terhadap
seluruh masyarakat Islam dewasa ini, adalah yang tercantum di “Ma’aalim
Fith Thoriq” : “Dan hakekat permasalahannya, adalah perkara kufur dan
iman, syirik dan tauhid, jahiliyah dan Islam, dan inilah yang harus
diperjelas …. Sesungguhnya, manusia (sekarang) bukanlah kaum muslimin
(sebagaimana yang mereka akui), dan mereka hidup dalam kehidupan
jahiliyyah. Jika ada orang yang suka menipu dirinya, atau menipu orang
lain, kemudian berkeyakinan bahwa Islam bisa tegak berdampingan dengan
kejahiliyyahan ini, maka terserah dia. Akan tetapi, ketertipuan atau
penipuannya, tidak akan merubah hakekat kenyataan sedikitpun. Ini bukan
Islam, dan mereka bukan kaum muslimin.” [2]
Sayyid Quthub
berkata di dalam Fii Zhilalil Qur’an: “Sungguh, waktu terus berputar
seperti ketika agama ini datang membawa kalimat Laa ilaha illallah
kepada manusia. Sungguh manusia (sekarang) telah murtad, beralih kepada
peribadatan kepada para hamba dan kepada kedholiman berbagai agama,
berpaling dari Laa ilaha illallah, meskipun masih ada sekelompok orang
yang memperdengarkan Laa ilaaha illallah.
Manusia
seluruhnya dan termasuk di dalamnya, mereka yang senantiasa
mendengung-dengungkan di tempat adzan, baik di belahan timur maupun
barat bumi, kalimat: Laa ilaaha illallah, tanpa bukti dan konsekwensi
…., dan mereka adalah yang berat dosanya, dan paling keras siksaannya
pada hari kiamat, karena mereka telah murtad menuju peribadatan hamba,
setelah petunjuk itu jelas bagi mereka, dan setelah memeluk agama
Allah”[3]
Sayyid Quthub berkata: “Sesungguhnya, sekarang
ini tidak ada satu negara atau masyrakat muslim pun di muka bumi, kaidah
berinteraksi dengan mereka adalah dengan syari’at Allah dan fiqih
Islam.” [4]
Teks-teks yang gamblang seperti diatas, masih
banyak di dalam buku-buku Sayyid Quthub. Itu semua tidak ada kemungkinan
untuk ditakwilkan, karena maksud semuanya adalah mengkafirkan para
ulama, pemerintah dan (seluruh) individu umat Islam, sampai para tukang
adzan (muadzdzin), mereka semuanya menurut Sayyid Quthub adalah kaum
kafir lagi murtad, dosanya lebih berat, dan adzab mereka lebih keras
dari selainnya.
Maka, dari buku-buku ini dan sejenisnya,
sebagian pengikut takfir masa ini menimba manhaj mereka, ide pengkafiran
masyarakat muslim, beserta akibat-akibatnya, seperti pembajakan,
peledakan dan pembunuhan terhadap jiwa yang dilarang, diberbagai negeri
kaum muslimin dan yang diluar mereka.
Kenyataan ini telah diakui oleh tokoh-tokoh Ikhwanul Muslimin dan mereka tulisakan di buku-buku mereka.
Al-Qardhawi
mengatakan: “Pada fase ini, muncul buku-buku Sayyid Quthub yang
mewakili fase terakhir pemikiran takfirnya, yang dengan cepat
mengkafirkan masyarakat …. serta pengumuman jihad penyerangan atas
seluruh manusia.”
Farid Abdul Kholiq mengatakan:
“Sesungguhnya pemikiran takfir tumbuh diantara para pemuda Ikhwanul
Muslimin yang berada di penjara Al-Qonathir [5], pada akhir tahun lima
puluhan dan permulaan enam puluhan. Mereka itu terpengaruh oleh
pemikiran dan tulisan Sayyid Quthub, sehingga mereka berkesimpulan bahwa
masyarakat dalam keadaan jahiliyyah, para pemimpinnya telah kafir,
karena mengingkari Allah sebagai Hakim tunggal, buktinya mereka tidak
berhukum dengan apa yang diturunkan oleh Allah. Begitu pula rakyatnya
kafir, jika meridhoi hal tersebut.”
Salim Al-Bahnasawy [6]
berkata: “Sayyid Quthub telah mengadopsi sebagian pendapat Al-Maududi
serta menampilkannya dalam tulisan-tulisannya, dan lebih khusus pada juz
ke-7 dari tafsir Fii Zhilalil Qur’an, kemudian datang suatu kaum
berkesimpulan atas dasar hal itu, bahwa kaum muslimin telah kafir,
karena mereka mengucapkan syahadat tanpa mengetahui maknanya, dan tanpa
mengamalkan isinya, sehingga meskipun mereka sholat, puasa, haji dan
menyangka bahwa diri mereka kaum muslimin, maka sama sekali tidak
merubah kekafiran mereka.” [7]
Ali Jarisyah [8] menetapkan
bahwa kaum takfiriyin (suka mengkafirkan kaum muslimin), asalnya mereka
adalah dari kelompok Ikhwanul Muslimin, kemudian mereka memisahkan diri
dari Ikhwanul Muslimin dan mengkafirkan Iikhwanul Muslimin.
Teksnya:
“Dalam pembicaraan, sekelompok orang telah memisahkan diri dari
kelompok besar Islam, ketika mereka berada di penjara. Meskipun
demikian, kelompok kecil tersebut juga mengkafirkan kelompok besar,
karena kelompok kecil ini tetap berpegang pada pendapat mereka dalam
pengkafiran peguasa, staf-stafnya, serta seluruh masyarakat. Dari
kelompok pecahan tersebut terpecah lagi menjadi kelompok-kelompok yang
banyak, yang satu megkafirkan yang lainnya.” [9]
Al-Bahnasawi
menjelaskan perpecahan kelompok ini di dalam diri mereka sendiri dalam
berinteraksi dengan kaum muslimin, maka dia mengatakan : “Ketika itu,
terpecah pengikut pemikiran ini menjadi dua:
[1]. Kelompok
yang tidak menampakkan pengkafiran atas orang-orang yang menyelisihi
mereka, sehingga kaum muslimin yang tidak sependapat dengan mereka,
tidak kafir, boleh shalat dibelakang mereka,isteri-isteri pengikut
pemikiran ini juga tidak kafir, sehinga tidak perlu membatalkan akad
pernikahan mereka.
[2]. Kelompok yang memisahkan diri
dengan terang-terangan, dan mengumumkan pengkafiran atas
saudara-saudaranya yang tidak mengkafirkan orang-orang yang menyelisihi
pemikiran ini, diantaranya kelompok Ikhwanul Muslimin.
Inilah
kelompok yang terkenal dengan sebutan “Jama’ah Takfir dan Hijrah”, akan
tetapi mereka menamakan diri dengan nama “Jama’atul Mukminn” atau “
Al-Jama’ah Al-Mukminah”.
Adapun kelompok pertama lebih
memilih untuk tidak menampakkan manhaj mereka, dengan menjalankan dua
kaidah : Memisahkan diri secara perlahan, dan (bergerak di) masa-masa
lemah (fase Mekkah).” [10]
Pada hakekatnya, pemikiran yang
Al-Bahnasawi berusaha membantahnya, yang dimiliki oleh Jama’ah
At-Tafkir wal-Hijrah adalah pemikiran Ikhwanul Muslimin, bahkan itulah
pemikiran dan keyakinan Sayyid Quthub. Motivasi Al-Bahnasawi melakukan
hal ini, adalah kebesaran cinta dan sayangnya kepada Sayyid Quthub,
sebagaimana hal itu nampak di dalam bukunya, dengan berusaha melepaskan
keterkaitan Sayyid Quhub dengan keyakinan tafkir [11], meskipun dia
telah mengakui bahwa aqidah ini diambil dari buku-buku Sayyid Quthub,
dan Sayyid Quthub mengadopsinya dari Al-Maududi.
Di antara
bukti hal ini, adalah keterus-terangan Sayyid Quthub sendiri akan
wajibnya mengembargo masyarakat muslim, yang dia sebut sebagai
masyarakat jahiliyyah. Dia juga mewajibkan untuk mengasingkan diri,
bahkan dari masjid-masjid, yang dia menyebutnya sebagai tempat-tempat
ibadah jahiliyyah, seraya mengatakan: “Dan di sinilah Allah membimbing
kita untuk menjauhi tempat-tempat ibadah jahiliyyah, dan menjadikan
rumah-rumah keluarga muslim sebagai masjid. Anda akan merasakan di
dalamnya benar-benar terpisah dari masyarakat jahiliyyah.” [12]
Dia
juga mengatakan: “Sungguh tiada keselamatan bagi seorang muslim di
seluruh dunia dari tertimpa adzab, kecuali dengan memisahkan diri baik
secara aqidah, perasaan maupun metode hidup dari orang-orang jahiliyyah
dari kaummnya, sampai Allah mengizinkan berdirinya negara Islam yang
mereka pegang teguh.” [13]
Pada hakekatnya, aqidah
pengkafiran masyarakat muslim ini, dan menganggap mereka sebagai
masyarakat jahiliyyah lagi kafir, tidak hanya dimiliki oleh Saayid
Qutuhub saja, akan tetapi itulah keyakinan yang bibit-bibitnya sudah
tertanam kuat dan tersebar luas pada para pemimpin Ikhwanul Muslimin.
Diantara pengusung pemikiran ini yang paling menonjol adalah Muhammad
Quthub[14], yang telah mengkhususkan pembahasan ini dalam bukunya yang
terkenal, “Jahiliyyatul Qorni Isyrin” (Jahiliyah abad ke-20). Pada
berbagai tempat di dalam bukunya ini, Muhammad Quthub terang-terangan
mengkafirkan masyarakat muslim dewasa ini
Muhamad Quthub
mengatakan: “Adapun keadaan yang dinamakan dunia Islam, maka hal itu
sebagian keadaannya berbeda dengan kondisinya di Eropa, akan tetapi pada
akhirnya akan bertemu dengannya, sebagaimana jahiliyyah bertemu dengan
jahiliyyah di setiap tempat dimuka bumi, dan disetiap masa, meskipun
sifat-sifatnya sedikit berbeda, yang membedakan jahiliyyah yang ini
dengan yang itu, serta membedakan antara keadaan ini dengan keadaan itu.
Islam
di dunia ini (sekarang) asing bagi manusia, seperti keterasingannya
pada awal munculnya di era jahiliyyah jazirah arab dahulu, dan
jahiliyyah yang sekarang[15] melebihi yang terdahulu, Islam dibenci oleh
banyak orang.
Setapak demi setapak pada pasal ini kita
akan berbicara tentang kelompok-kelompok manusia yang berbeda-beda, agar
bisa kita jelaskan, kenapa mereka membenci Islam. [16]
Kemudian
dia menyebutkan, di antara kelompok-kelompok tersebut yang membenci
Islam adalah kelompok thogut, dan yang dimaksud adalah para penguasa,
kelompok cendekiawan, seniman dan para penulis, tukang dongeng, para
penyair, anak-anak pria dan wanita.[17]
Setelah itu, dia mengatakan: “Derajat kebenciannya sama, antara yang membangkang dengan yang lemah.” [18]
Lalu dia bertanya-tanya: “Maka, jika demikian, apakah yang masih tersisa dari kaum muslimin?!" [19]
Kemudian dia mencatat hasilnya: “Sungguh manusia pada generasi ini, telah kafir padahal mereka mengetahuinya.” [20]
Dan
tidaklah buku-buku para pemimpin Ikhwanul Muslimin yang lain keadaannya
lebih baik dari buku-buku Sayyid Quthub dan saudaranya. Dan hal itu
bukanlah suatu hal yang mengherankan, karena Sayyid Quthub menurut
mereka adalah Imam yang diagungkan, Syaikhul Islam, pembaharu agama abad
ini. Hal ini juga diikuti simpatisan mereka, maka bagaimana mungkin
mereka akan menyelisihi idola mereka?!
Dan tidaklah
keadaan Al-Maududi dan para pengikutnya di Pakistan, India dan lainnya
lebih baik dari kelompok Ikhwanul Muslimin, bahkan sebagian peneliti
buku-buku Al-Maududi menjelaskan bahwa Sayyid Quthub mengadopsi
pemikiran dan manhajnya dari Al-Maududi saja, sebagaimana perkataan
Al-Bahnasawi yang terdahulu.
Yang terakhir, sesungguhnya
saya memperingatkan dengan keras kepada setiap pemuda yang memiliki
kecemburuan terhadap agamanya untuk tidak membaca buku-buku pemikiran
tersebut, yang namanya saja sudah menunjukkan betapa jauhnya buku-buku
tersebut dari agama. Karena buku-buku pemikiran, sebagaimana penamaan
mereka, yakni buku-buku yang dihasilkan dari berbagai pemikiran dan
pendapat pengarangnya, kadar bahanya buku-buku ini tidak lebih rendah
dari buku-buku filsafat yang dilarang oleh salaf, bahkan lebih dahsyat.
Buku-buku ini tidak berdiri diatas dalil dan tidak selaras dengan
pemahaman salaf, bahkan merupakan pencampuran (kolaborasi) antara
berbagai bid’ah dan kesesatan.
Ciri khas yang menonjol
dari buku-buku tersebut adalah memprovokasi dan menyeru umat untuk
memberontak dan membangkang penguasa, dengan mempropagandakan kekafiran
dan kemurtadan penguasa dari agama, serta menjadikan para pemuda
tersebut disibukkan dengan politik dan masuk dalam konflik, sehingga
keburukan dan bahayanya buku-buku ini begitu besar, dan begitu banyak
orang-orang yang terfitnah oleh buku-buku ini, dan tidak ada yang
mengetahui jumlahnya kecuali Allah semata. Inna lillahi wa inna ilaihi
roji’un. [21]
[Disalin dari Majalah Adz-Dzakhiirah
Al-Islamiyyah Edisi 24 Th V Dzulqo’dah 4127H. Penerbit Ma’had Ali
Al-Irsyad As-Salafy Surabaya, Jl Sidotopo Kidul No. 51 Surabaya]
__________
Foote Note.
[1].
Dialihbahasakan oleh Abu Zahroh Imam Wahyudi Lc, dari buku At-Takfir wa
Dhowabithuh” karya Prof Dr Ibrahim bin Amir Ar-Rauhaily, dosen fakultas
Da’wah wa Ushuludin, Universitas Islam Madinah hal : 37-45. Tulisan ini
kami muat sebagai jawaban atas orang-orang yang menyatakan Khowarij
sekarang ini, sudah punah (-pent)
[2]. Ma’alim Fith Thoriq hal : 158
[3]. Fii Zhilalil Qur’an (2/1057)
[4]. Idem (4/2122)
[5]. Penjara ini ada di Kairo, Mesir (-pent)
[6]. Penulis dari kalangan Ikhwanul Muslimin, pernah tinggal di Kuwait. (-pent)
[7]. Al-Hukmu wa Qodhiyah Takfiril Muslimin hal : 50
[8]. Penulis dari kalangan Ikhwanul Muslimin, lulusan Fakultas Hukum, Kairo
[9]. Al-Ittijaahat Al-Fikriyah Al-Mu’aashiroh hal : 279
[10]. Al-Hukmu wa Qodhiyah Takfiril Muslimin hal : 34-35
[11]. Al-Hukmu wa Qodhiyah Takfiril Muslimin hal : 50, 56, 66, 73, 74,76, 112
[12]. Fii Zhilalil Qur’an 3/1816
[13] idem 4/2122
[14].
Adik kandung Saayid Quthub, lulusan Fakultas Bahasa Inggris di
Universitas Kairo Mesir, kemudian mendapatkan gelar Diploma dalam bidang
Psikologi. Dialah yang mengusung dan mengembangkan pemikiran Sayyid
Quthub di Saudi Arabia, ketika ia mengajar di Universitas Umul Quro,
Mekkah. Sehingga tidak mengherankan apabila muncul dari sana tokoh-tokoh
yang berpemikiran takfir akan tetapi berbaju salaf, semisal Dr Safar
Hawali dll. Allahu Musta’an. (-pent)
[15]. Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyah berkata : “Adapun mensifati zaman secara mutlak, maka tidak ada
masa jahiliyah setelah diutusnya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa
sallam, karena senantiasa akan ada segolongan dari umatnya yang akan
nampak di atas kebenaran sampai kiamat nanti” (Iqtidho’ush Shirothol
Mustaqim : 1/259)
Dr Nashir bin Abdul Karim Al-Aql (pentahqiq buku
diatas) mengomentari : “Atas dasar ini, maka menggunakan istilah
Jahiliyah dengan mutlak untuk kaum muslimin secara umum, atau untuk
suatu negeri kaum muslimin, atau untuk suatu masyarakat muslim, tanpa
perincian keadaan, perbuatan, tindakan atau individu tertentu, merupakan
suatu kesalahan dan peremehan, yang sudah sepatutnya seorang muslim
menjauhinya. Adapun yang disampaikan oleh beberapa penulis, penyusun dan
pemikir bahwa semua atau semua masyarakat muslim adalah masyarakat
jahiliyyah (tanpa perincian atau pengkhususan siapa yang menurut
syari’at berhak menyandang istilah tersebut), maka itu bukanlah metode
yang selamat, bahkan menyelisihi kaidah-kaidah syari’at dan manhaj
As-Salaf Ash-Shalih. (editor).
[16]. Jahiliyatul Qornil ‘Isyrin hal :328-329
[17]. Idem : 329-331
[18]. Idem hal 337
[19]. Idem hal 337
[20]. Idem hal 351
[21].
Lihatlah fatwa larangan sebagian ulama masa kini dari membaca buku-buku
tersebut, seperti dalam kitab “Al-Ajwibah Al-Mufidah An-Manahijid
Dakwal Al-Jadidah” oleh Syaikh Sholih Al-Fauzan, dikumpulkan oleh Jamal
Furaihan Al-Haritsi. Juga buku “Fatawa Al-Akabir” dikumpulkan dan
dikomentari oleh Syaikh Abdul Malik bin Ahmad Rhamadhany.
Semoga bermanfaat...
JIHAD DALAM ISLAM
ihad merupakan tulang punggung dan kubah Islam. Kedudukan orang-orang
yang berjihad amatlah tinggi di surga, begitu juga di dunia. Mereka
mulia di dunia dan di akhirat.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah orang yang paling tinggi derajatnya dalam jihad. Beliau telah berjihad dalam segala bentuk dan macamnya. Beliau berjihad di jalan Allah dengan sebenar-benarnya jihad, baik dengan hati, dakwah, keterangan (ilmu), pedang dan senjata. Semua waktu beliau hanya untuk berjihad dengan hati, lisan dan tangan beliau. Oleh karena itulah, beliau amat harum namanya (di sisi manusia-pent) dan paling mulia di sisi Allah.
Allah memerintahkan beliau untuk berjihad semenjak beliau diutus sebagai Nabi, Allah Ta'ala berfirman :
Surat ini termasuk surat Makiyah yang di dalamnya terdapat perintah untuk berjihad melawan orang-orang kafir dengan hujjah dan keterangan serta menyampaikan Al-Qur'an. Demikian juga, jihad melawan orang-orang munafik dengan menyampaikan hujjah karena mereka sudah ada di bawah kekuasaan kaum muslimin, Allah Ta'ala berfirman:
"Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah neraka Jahannam. Dan itulah tempat kembali yang seburuk-buruknya." (QS. At-Taubah : 73).
Jihad melawan orang-orang munafik (dengan hujjah-pent) lebih sulit daripada jihad melawan orang-orang kafir (dengan pedang/senjata-pent), karena (jihad dengan hujjah-pent) hanya bisa dilakukan orang-orang khusus saja yaitu para pewaris nabi (ulama). Yang bisa melaksanakannya dan yang membantu mereka adalah sekelompok kecil dari manusia. Meskipun demikian, mereka adalah orang-orang termulia di sisi Allah.[2]
Termasuk semulia-mulianya jihad adalah mengatakan kebenaran meski banyak orang yang menentang dengan keras seperti menyampaikan kebenaran kepada orang yang dikhawatirkan gangguannya. Oleh karena inilah, para Rasul -sholawatullahi 'alaihim wa salaamuhu- termasuk yang paling sempurna.
Jihad melawan musuh-musuh Allah di luar (kaum muslimin) termasuk cabang dari jihadnya seorang hamba terhadap dirinya sendiri (hawa nafsu) di dalam ketaatan kepada Allah, sebagaimana yang disabdakan Nabi shallallahu 'alaihi wa salam:
Oleh sebab itu, jihad terhadap diri sendiri lebih didahulukan daripada jihad melawan orang-orang kafir dan hal tersebut merupakan pondasinya. Seorang hamba jika tidak berjihad terhadap dirinya sendiri dalam mentaati perintah Allah dan meninggalkan apa yang dilarang dengan ikhlas karena-Nya, maka bagaimana mungkin dia bisa berjihad melawan orang-orang kafir.[3]
Bagaimana dia bisa melawan orang-orang kafir sedangkan musuh (hawa nafsu) nya yang berada disamping kiri dan kanannya masih menguasainya dan dia belum berjihad melawannya karena Allah. Tidak akan mungkin dia keluar berjihad melawan musuh (orang-orang kafir) sehingga dia mampu berjihad melawan hawa nafsunya untuk keluar berjihad.[4]
Kedua musuh itu adalah sasaran jihad seorang hamba. Tapi masih ada yang ketiga, yang dia tidak mungkin berjihad melawan keduanya kecuali setelah mengalahkan yang ketiga ini. Dia (musuh yang ketiga ini) selalu menghadang, menipu dan menggoda hamba agar tidak berjihad melawan hawa nafsunya. Dia senantiasa menggambarkan kepada seorang hamba bahwa berjihad melawan hawa nafsu amatlah berat dan harus meninggalkan kelezatan dan kenikmatan (dunia). Tidak mungkin dia berjihad melawan kedua musuhnya tadi kecuali terlebih dahulu berjihad melawannya. Oleh karenanya, jihad melawannya adalah pondasi dalam berjihad melawan keduanya. Musuh yang ketiga itu adalah setan, Allah ta'ala berfirman:
Perintah untuk menjadikan setan sebagai musuh merupakan peringatan agar (seorang hamba) mengerahkan segala kekuatan dalam memeranginya, karena musuh tersebut tidak pernah lelah dan lemah untuk menyesatkan manusia sepanjang masa.
Jika hal di atas sudah dimengerti maka jihad terbagi menjadi empat tahapan [5]:
1. Jihad melawan diri sendiri (hawa nafsu), dan hal ini terbagi lagi menjadi empat tingkatan:
a. Berjihad dalam menuntut ilmu agama yang tidak akan ada kebahagiaan di dunia dan di akhirat kecuali dengannya. Barangsiapa yang ketinggalan ilmu agama maka dia akan sengsara di dunia dan di akhirat.
b. Berjihad dalam mengamalkan ilmu yang dia pelajari, karena ilmu tanpa amal jika tidak memadharatkannya, minimal ilmunya tidak bermanfaat.
c. Berjihad dalam dakwah (menyeru manusia) kepada ilmu tersebut dan mengajarkannya kepada yang tidak tahu. Jika tidak, maka dia termasuk orang yang menyembunyikan ilmu yang telah diturunkan Allah dan tidak akan bermanfaat ilmunya serta dia tidak akan selamat dari adzab Allah.
d. Berjihad dalam bersabar menghadapi rintangan di jalan dakwah serta gangguan manusia karena Allah.
Jika seorang hamba telah menyempurnakan keempat tingkatan ini, maka dia tergolong Robbaaniyyiin (orang-orang Robbani). Para salaf dahulu telah sepakat bahwa seorang alim tidak bisa dikatakan Robbani hingga dia tahu kebenaran, lalu mengamalkan dan mengajarkannya. Barangsiapa yang mengetahui (kebenaran) lalu dia mengamalkan dan mengajarkannya, maka dia akan tersanjung dikalangan para penghuni langit.
2. Jihad melawan setan, dan hal ini terbagi menjadi 2 bagian :
a. Berjihad dalam menolak syubhat (kerancuan) dan keraguan dalam keimanan
b. Berjihad dalam menolak bisikan syahwat.
Jihad yang pertama akan melahirkan keyakinan dan jihad yang kedua akan menghasilkan kesabaran Allah ta'ala berfirman:
Allah ta'ala mengabarkan bahwa kepemimpinan dalam agama dapat diperoleh hanya dengan kesabaran dan keyakinan. Kesabaran dapat menolak nafsu syahwat serta keinginan jelek sedangkan keyakinan bisa menolak keraguan serta kerancuan.
3. Jihad melawan orang-orang kafir dan munafik. Hal ini meliputi empat hal : jihad dengan hati, lisan, harta dan jiwa raga. Berjihad melawan orang-orang kafir lebih dikhususkan dengan tangan dan berjihad melawan orang-orang munafik lebih dikhususkan dengan lisan.
4. Jihad melawan orang-orang dzolim, ahli bid'ah, dan pembuat kemungkaran. Hal ini memiliki tiga tahapan. Dengan tangan bila mampu, jika tidak maka pindah dengan lisan dan jika tidak mampu juga maka dengan hati.
Inilah tiga belas tahapan dalam jihad dan (Barangsiapa yang mati dan tidak berjihad serta tidak pernah membisikkan dalam dirinya untuk berjihad maka dia mati dalam cabang kemunafikan).[6]
Dan tidak akan sempurna jihad melainkan dengan hijrah dan tidak ada hijrah serta jihad tanpa keimanan.[7]
Orang-orang yang mengharapkan rahmat Allah adalah orang-orang yang menjalankan ketiga hal tersebut, Allah ta'ala berfirman:
Sebagaimana keimanan adalah kewajiban bagi setiap orang, maka diwajibkan pula kepada mereka dua hijrah di setiap saat:
1. Berhijrah kepada Allah dengan mentauhidkan-Nya, ikhlas, bertobat, tawakkal, mengharap, dan cinta kepada-Nya.
2. Berhijrah kepada Rasul-Nya dengan mengikuti sunnah beliau, tunduk kepada perintah beliau, membenarkan kabar yang beliau sampaikan serta mendahulukan perintah beliau daripada perintah yang lainnya. Nabi bersabda yang artinya:
Perintah untuk jihad melawan hawa nafsu dalam mentaati Allah dan jihad melawan setan adalah fardhu ain yang tidak bisa diwakilkan kepada seorangpun. Adapun jihad melawan orang-orang kafir dan munafik adalah fardhu kifayah.
Penterjemah: Ustadz Abdurrahman bin Thayyib, Lc.
-----------------------------------
Foot note:
* [1] Kami terjemahkan dari kitab "Zadul ma aad fii hadyi khoiril ibaad", 3/5-11, Al-Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah, tapi ada sebagian yg kami anggap tidak perlu diterjemahkan (hal 6-8) agar tidak terlalu panjang. Dan kami hadiahkan terjemahan ini kepada mereka yang selalu meneriakkan kata jihad dengan senjata (pengeboman), yang senantiasa mengajak umat untuk memberontak penguasa dengan nama jihad, yang menuduh para ulama Dakwah Salafiyah tidak berjihad dan menihilkan jihad. Insya Allah pada edisi berikutnya akan dibahas tentang kaidah-kaidah dalam berjihad agar jihadnya seorang muslim didasari ilmu bukan hawa napsu maupun kejahilan yang diiringi semangat yang terlalu menggebu hingga lebih banyak MERUSAK daripada membangun, seperti yang dikatakan Khalifah Umar bin Abdul Aziz: "Barangsiapa yang beribadah kepada Allah TANPA ILMU maka dia banyak MERUSAK daripada memperbaiki." (pent)
[2] Dari keterangan Ibnul Qayyim ini, masihkan ada orang yang mencela dan mencaci-maki para ulama, karena belum pernah mengangkat pedang dan hanya bisa mengajarkan Al-Qur'an dan sunnah di masjid2..?? Ataukah justru mereka memvonis bahwa Ibnul Qayyim menihilkan jihad??? (pent)
[3] Di antaranya dengan berjihad menuntut ilmu agama yang benar sesuai dengan pemahaman salafush shalih serta menghilangkan KEBODOHAN DALAM DIRINYA terutama dalam masalah aqidah. (pent)
[4] Adapun hadits yang berbunyi "Kita tlh kmbli dari jihad kecil kepada jihad besar" maka hadits ini tidak shahih. Lihat "Kasyful Khofa 1/424. (pent)
[5] Dari sini terlihat jelas kesalahan sebagian orang yang hanya MENYEMPITKAN arti jihad dengan jihad melawan orang-orang kafir dengan senjata. (pent)
[6] HR. Muslim no. 1910
[7] Tidakkah mereka yang selalu menggembar-gemborkan jihad melawan orang-orang kafir Yahudi maupun Nashoro memahami hal ini?? Mereka menyeru umat untuk berjihad siang-malam sedangkan banyak dari umat Islam ini yang masih rusak aqidah dan keimanannya. Akankah mereka terus meneriakkan jihad di tengah kaum muslimin sedangkan kesyirikan, penyembahan terhadap wali-wali, sunan-sunan serta kyai-kyai yang telah meninggal, ada di pelupuk mata mereka???
Apakah mereka sengaja menutup mata? Mengapa mereka tidak mau dan enggan untuk memulai dan memfokuskan dakwah mereka terlebih dahulu kepada Dakwah Tauhid dan memberantas kesyirikan seperti yang dilakukan Rasulullah? Apakah mereka menganggap metode yang mereka jalankan itu lebih baik dari metode dakwahnya Rasulullah dan para rasul-rasul lain??? (pent)
Semoga bermanfaat...
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah orang yang paling tinggi derajatnya dalam jihad. Beliau telah berjihad dalam segala bentuk dan macamnya. Beliau berjihad di jalan Allah dengan sebenar-benarnya jihad, baik dengan hati, dakwah, keterangan (ilmu), pedang dan senjata. Semua waktu beliau hanya untuk berjihad dengan hati, lisan dan tangan beliau. Oleh karena itulah, beliau amat harum namanya (di sisi manusia-pent) dan paling mulia di sisi Allah.
Allah memerintahkan beliau untuk berjihad semenjak beliau diutus sebagai Nabi, Allah Ta'ala berfirman :
وَلَوْ شِئْنَا لَبَعَثْنَا فِي كُلِّ قَرْيَةٍ نَذِيرًا فَلا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَجَاهِدْهُمْ بِهِ جِهَادًا كَبِيرًا
"Dan andaikata Kami menghendaki, benar-benarlah Kami utus pada tiap-tiap negeri seorang yang memberi peringatan (rasul). Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al Qur'an dengan jihad yang besar." (Al-Furqon : 51-52).
Surat ini termasuk surat Makiyah yang di dalamnya terdapat perintah untuk berjihad melawan orang-orang kafir dengan hujjah dan keterangan serta menyampaikan Al-Qur'an. Demikian juga, jihad melawan orang-orang munafik dengan menyampaikan hujjah karena mereka sudah ada di bawah kekuasaan kaum muslimin, Allah Ta'ala berfirman:
"Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah neraka Jahannam. Dan itulah tempat kembali yang seburuk-buruknya." (QS. At-Taubah : 73).
Jihad melawan orang-orang munafik (dengan hujjah-pent) lebih sulit daripada jihad melawan orang-orang kafir (dengan pedang/senjata-pent), karena (jihad dengan hujjah-pent) hanya bisa dilakukan orang-orang khusus saja yaitu para pewaris nabi (ulama). Yang bisa melaksanakannya dan yang membantu mereka adalah sekelompok kecil dari manusia. Meskipun demikian, mereka adalah orang-orang termulia di sisi Allah.[2]
Termasuk semulia-mulianya jihad adalah mengatakan kebenaran meski banyak orang yang menentang dengan keras seperti menyampaikan kebenaran kepada orang yang dikhawatirkan gangguannya. Oleh karena inilah, para Rasul -sholawatullahi 'alaihim wa salaamuhu- termasuk yang paling sempurna.
Jihad melawan musuh-musuh Allah di luar (kaum muslimin) termasuk cabang dari jihadnya seorang hamba terhadap dirinya sendiri (hawa nafsu) di dalam ketaatan kepada Allah, sebagaimana yang disabdakan Nabi shallallahu 'alaihi wa salam:
"Mujahid adalah orang yang berjihad melawan dirinya dalam mentaati Allah dan Muhajir adalah orang yang berhijrah dari apa yang dilarang Allah." (HR. Ahmad dan sanadnya jayyid/baik).
Oleh sebab itu, jihad terhadap diri sendiri lebih didahulukan daripada jihad melawan orang-orang kafir dan hal tersebut merupakan pondasinya. Seorang hamba jika tidak berjihad terhadap dirinya sendiri dalam mentaati perintah Allah dan meninggalkan apa yang dilarang dengan ikhlas karena-Nya, maka bagaimana mungkin dia bisa berjihad melawan orang-orang kafir.[3]
Bagaimana dia bisa melawan orang-orang kafir sedangkan musuh (hawa nafsu) nya yang berada disamping kiri dan kanannya masih menguasainya dan dia belum berjihad melawannya karena Allah. Tidak akan mungkin dia keluar berjihad melawan musuh (orang-orang kafir) sehingga dia mampu berjihad melawan hawa nafsunya untuk keluar berjihad.[4]
Kedua musuh itu adalah sasaran jihad seorang hamba. Tapi masih ada yang ketiga, yang dia tidak mungkin berjihad melawan keduanya kecuali setelah mengalahkan yang ketiga ini. Dia (musuh yang ketiga ini) selalu menghadang, menipu dan menggoda hamba agar tidak berjihad melawan hawa nafsunya. Dia senantiasa menggambarkan kepada seorang hamba bahwa berjihad melawan hawa nafsu amatlah berat dan harus meninggalkan kelezatan dan kenikmatan (dunia). Tidak mungkin dia berjihad melawan kedua musuhnya tadi kecuali terlebih dahulu berjihad melawannya. Oleh karenanya, jihad melawannya adalah pondasi dalam berjihad melawan keduanya. Musuh yang ketiga itu adalah setan, Allah ta'ala berfirman:
"Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh (mu)." (Faathir : 6).
Perintah untuk menjadikan setan sebagai musuh merupakan peringatan agar (seorang hamba) mengerahkan segala kekuatan dalam memeranginya, karena musuh tersebut tidak pernah lelah dan lemah untuk menyesatkan manusia sepanjang masa.
Jika hal di atas sudah dimengerti maka jihad terbagi menjadi empat tahapan [5]:
1. Jihad melawan diri sendiri (hawa nafsu), dan hal ini terbagi lagi menjadi empat tingkatan:
a. Berjihad dalam menuntut ilmu agama yang tidak akan ada kebahagiaan di dunia dan di akhirat kecuali dengannya. Barangsiapa yang ketinggalan ilmu agama maka dia akan sengsara di dunia dan di akhirat.
b. Berjihad dalam mengamalkan ilmu yang dia pelajari, karena ilmu tanpa amal jika tidak memadharatkannya, minimal ilmunya tidak bermanfaat.
c. Berjihad dalam dakwah (menyeru manusia) kepada ilmu tersebut dan mengajarkannya kepada yang tidak tahu. Jika tidak, maka dia termasuk orang yang menyembunyikan ilmu yang telah diturunkan Allah dan tidak akan bermanfaat ilmunya serta dia tidak akan selamat dari adzab Allah.
d. Berjihad dalam bersabar menghadapi rintangan di jalan dakwah serta gangguan manusia karena Allah.
Jika seorang hamba telah menyempurnakan keempat tingkatan ini, maka dia tergolong Robbaaniyyiin (orang-orang Robbani). Para salaf dahulu telah sepakat bahwa seorang alim tidak bisa dikatakan Robbani hingga dia tahu kebenaran, lalu mengamalkan dan mengajarkannya. Barangsiapa yang mengetahui (kebenaran) lalu dia mengamalkan dan mengajarkannya, maka dia akan tersanjung dikalangan para penghuni langit.
2. Jihad melawan setan, dan hal ini terbagi menjadi 2 bagian :
a. Berjihad dalam menolak syubhat (kerancuan) dan keraguan dalam keimanan
b. Berjihad dalam menolak bisikan syahwat.
Jihad yang pertama akan melahirkan keyakinan dan jihad yang kedua akan menghasilkan kesabaran Allah ta'ala berfirman:
"Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami." (QS.As-Sajdah : 24).
Allah ta'ala mengabarkan bahwa kepemimpinan dalam agama dapat diperoleh hanya dengan kesabaran dan keyakinan. Kesabaran dapat menolak nafsu syahwat serta keinginan jelek sedangkan keyakinan bisa menolak keraguan serta kerancuan.
3. Jihad melawan orang-orang kafir dan munafik. Hal ini meliputi empat hal : jihad dengan hati, lisan, harta dan jiwa raga. Berjihad melawan orang-orang kafir lebih dikhususkan dengan tangan dan berjihad melawan orang-orang munafik lebih dikhususkan dengan lisan.
4. Jihad melawan orang-orang dzolim, ahli bid'ah, dan pembuat kemungkaran. Hal ini memiliki tiga tahapan. Dengan tangan bila mampu, jika tidak maka pindah dengan lisan dan jika tidak mampu juga maka dengan hati.
Inilah tiga belas tahapan dalam jihad dan (Barangsiapa yang mati dan tidak berjihad serta tidak pernah membisikkan dalam dirinya untuk berjihad maka dia mati dalam cabang kemunafikan).[6]
Dan tidak akan sempurna jihad melainkan dengan hijrah dan tidak ada hijrah serta jihad tanpa keimanan.[7]
Orang-orang yang mengharapkan rahmat Allah adalah orang-orang yang menjalankan ketiga hal tersebut, Allah ta'ala berfirman:
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS.Al-Baqoroh : 218).
Sebagaimana keimanan adalah kewajiban bagi setiap orang, maka diwajibkan pula kepada mereka dua hijrah di setiap saat:
1. Berhijrah kepada Allah dengan mentauhidkan-Nya, ikhlas, bertobat, tawakkal, mengharap, dan cinta kepada-Nya.
2. Berhijrah kepada Rasul-Nya dengan mengikuti sunnah beliau, tunduk kepada perintah beliau, membenarkan kabar yang beliau sampaikan serta mendahulukan perintah beliau daripada perintah yang lainnya. Nabi bersabda yang artinya:
"Barangsiapa yang berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya. Dan barangsiapa yang berhijrah kepada dunia atau perempuan yang hendak dinikahinya maka hijrahnya kepada apa yang dia niatkan". (HR. Bukhari dan Muslim).
Perintah untuk jihad melawan hawa nafsu dalam mentaati Allah dan jihad melawan setan adalah fardhu ain yang tidak bisa diwakilkan kepada seorangpun. Adapun jihad melawan orang-orang kafir dan munafik adalah fardhu kifayah.
Penterjemah: Ustadz Abdurrahman bin Thayyib, Lc.
-----------------------------------
Foot note:
* [1] Kami terjemahkan dari kitab "Zadul ma aad fii hadyi khoiril ibaad", 3/5-11, Al-Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah, tapi ada sebagian yg kami anggap tidak perlu diterjemahkan (hal 6-8) agar tidak terlalu panjang. Dan kami hadiahkan terjemahan ini kepada mereka yang selalu meneriakkan kata jihad dengan senjata (pengeboman), yang senantiasa mengajak umat untuk memberontak penguasa dengan nama jihad, yang menuduh para ulama Dakwah Salafiyah tidak berjihad dan menihilkan jihad. Insya Allah pada edisi berikutnya akan dibahas tentang kaidah-kaidah dalam berjihad agar jihadnya seorang muslim didasari ilmu bukan hawa napsu maupun kejahilan yang diiringi semangat yang terlalu menggebu hingga lebih banyak MERUSAK daripada membangun, seperti yang dikatakan Khalifah Umar bin Abdul Aziz: "Barangsiapa yang beribadah kepada Allah TANPA ILMU maka dia banyak MERUSAK daripada memperbaiki." (pent)
[2] Dari keterangan Ibnul Qayyim ini, masihkan ada orang yang mencela dan mencaci-maki para ulama, karena belum pernah mengangkat pedang dan hanya bisa mengajarkan Al-Qur'an dan sunnah di masjid2..?? Ataukah justru mereka memvonis bahwa Ibnul Qayyim menihilkan jihad??? (pent)
[3] Di antaranya dengan berjihad menuntut ilmu agama yang benar sesuai dengan pemahaman salafush shalih serta menghilangkan KEBODOHAN DALAM DIRINYA terutama dalam masalah aqidah. (pent)
[4] Adapun hadits yang berbunyi "Kita tlh kmbli dari jihad kecil kepada jihad besar" maka hadits ini tidak shahih. Lihat "Kasyful Khofa 1/424. (pent)
[5] Dari sini terlihat jelas kesalahan sebagian orang yang hanya MENYEMPITKAN arti jihad dengan jihad melawan orang-orang kafir dengan senjata. (pent)
[6] HR. Muslim no. 1910
[7] Tidakkah mereka yang selalu menggembar-gemborkan jihad melawan orang-orang kafir Yahudi maupun Nashoro memahami hal ini?? Mereka menyeru umat untuk berjihad siang-malam sedangkan banyak dari umat Islam ini yang masih rusak aqidah dan keimanannya. Akankah mereka terus meneriakkan jihad di tengah kaum muslimin sedangkan kesyirikan, penyembahan terhadap wali-wali, sunan-sunan serta kyai-kyai yang telah meninggal, ada di pelupuk mata mereka???
Apakah mereka sengaja menutup mata? Mengapa mereka tidak mau dan enggan untuk memulai dan memfokuskan dakwah mereka terlebih dahulu kepada Dakwah Tauhid dan memberantas kesyirikan seperti yang dilakukan Rasulullah? Apakah mereka menganggap metode yang mereka jalankan itu lebih baik dari metode dakwahnya Rasulullah dan para rasul-rasul lain??? (pent)
Semoga bermanfaat...
Yang Baik hanya untuk yang baik? AnNur aya t 26
لْخـَبِيـْثــاَتُ لِلْخَبِيْثـِيْنَ وَ اْلخَبِيْثُــوْنَ لِلْخَبِيْثاَتِ
وَ الطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِيْنَ وَ الطَّيِّبُوْنَ لِلطَّيِّبَاتِ.
“ Wanita-wanita yang tidak baik untuk laki-laki yang tidak baik,
dan laki-laki yang tidak baik adalah untuk wanita yang tidak baik pula.
Wanita yang .baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk
wanita yang baik. (Qs. An Nur:26)
Beberapa waktu yang lalu saya mendapatkan SMS tausiyah yang berisi
ayat diatas yaitu surat An-nur ayat 26.Lalu ada seorang teman yang
menanyakan, apakah benar isi ayat ini? Apakah mesti “otomatis” wanita
yang tidak baik untuk laki-laki yang tidak baik juga?Bagaimana
Seandainya dalam kehidupan nyata ada seorang pria yang baik dan dia
mendapatkan wanita yang tidak baik?Apakah ayat Al Quran diatas salah?Pertanyaan seperti itu sebenarnya menjadi pertanyaan saya juga dari dulu dan saya mencoba memahami apa yang saya pahami dari ayat tersebut.
Al Quran sebagai Petunjuk
Umat Islam diseluruh dunia meyakini bahwa Quran itu firman Allah.Artinya apa yang dikatakan Allah dalam Quran dipastikan benar.Tuhan memberi tahu kepada kita bagaimana cara kita mengenalnya dengan diutusnya nabi.Sebab akal manusia tidak akan sampai untuk mengenal siapa Tuhannya,oleh karena itu Tuhan memberi petunjuk.Petunjuk jalan yang lurus agar dapat mengenalnya.Dalam memahami petunjuknya berupa firmanNya,terdapat keterbatasan diri kita,sehingga firman Tuhan yang sudah pasti benar,bisa saja menjadi salah dengan pemahaman kita.
Karena apa yang dimaksud baik-salah itu adalah menurut Tuhan. Standar baik-buruk itu tentu saja sudah ditentukan oleh Tuhan.Bahkan kata baik-buruk itu ada karena adanya agama. Artinya apa?
Jika kita menilai sesuatu itu baik-buruk tentu saja berdasarkan kepada ajaran agama.Karena tidak logis jika kita menilai sesuatu itu baik/buruk hanya berdasarkan pemikiran sendiri,karena premis baik atau tidak baik itu muncul dari adanya Tuhan.Tuhan yang menentukan standar ini baik dan ini buruk.Sangat tidak rasional jika hanya menentukan baik/buruk hanya menurut kita karena premis yang digunakan kita ketahui dari Tuhan,sehingga dalam memahami ayat yang diturunkan Tuhan (Kauliah) atau ketetapan yang terjadi di bumi secara logis dapat kita katakan bahwa Allahlah yang mengetahui sesuatu itu baik atau tidak.
AnNur ayat 26
”Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia (surga).”
Berangkat dari pemahaman diatas,tentu saja kita bertanya-tanya apakah yang dimaksud baik disini?Atau keji? Apakah kita dapat menentukan sesuatu itu baik atau tidak baik?Kalau kita cermati ayat diatas merupakan satu paket ayat yang bersambung ,tidak hanya putus pada kalimat “untuk wanita yang baik”tetapi masih berlanjut dengan bahasan tuduhan , juga ampunan.Artinya ayat ini sebenarnya diturunkan dalam konteks tertentu.Coba kita lihat konteks ayat ini turun
Minggu, 16 Maret 2014
PENGERTIAN WAHABI
Orang-orang biasa menuduh "wahabi " kepada setiap orang yang melanggar tradisi, kepercayaan
dan bid'ah mereka, sekalipun keperca-yaan-kepercayaan mereka itu rusak,
bertentangan dengan Al-Qur'anul Karim dan hadits-hadits shahih . Mereka menentang dakwah kepada
tauhid dan enggan berdo'a (memohon) hanya kepada Allah semata.
Suatu kali, di depan seorang syaikh penulis membacakan hadits
riwayat Ibnu Abbas yang terdapat dalam kitab Al-Arba'in
An-Nawa-wiyah. Hadits itu
berbunyi:
"Jika engkau memohon maka
mohonlah kepada Allah, dan jika engkau meminta pertolongan, maka mintalah
pertolongan kepa-da Allah." (HR. At-Tirmidzi,
ia berkata hadits hasan shahih )
Penulis sungguh kagum terhadap keterangan Imam An-Nawawi ketika
beliau mengatakan, "Kemudian jika kebutuhan yang diminta-nya �menurut tradisi� di luar batas kemampuan manusia, seperti
meminta hidayah (petunjuk), ilmu, kesembuhan dari sakit dan kesehatan maka
hal-hal itu (mesti) memintanya hanya kepada Allah semata. Dan jika hal-hal di
atas dimintanya kepada makhluk maka itu amat tercela."
Lalu kepada syaikh tersebut penulis katakan, "Hadits ini
berikut keterangannya menegaskan tidak dibolehkannya meminta pertolongan kepada
selain Allah." Ia lalu menyergah, "Malah sebaliknya, hal itu dibolehkan!"
Penulis lalu bertanya, "Apa dalil anda?" Syaikh itu
ternyata marah sambil berkata dengan suara tinggi, "Sesungguhnya bibiku
berkata, wahai Syaikh Sa'd!" dan Aku bertanya padanya, "Wahai bibiku,
apakah Syaikh Sa'd dapat memberi manfaat kepadamu?" Ia menjawab, "Aku
berdo'a (meminta) kepadanya, sehingga ia menyam-paikannya kepada Allah, lalu
Allah menyembuhkanku."
Lalu penulis berkata, "Sesungguhnya engkau adalah seorang
alim. Engkau banyak habiskan umurmu untuk membaca kitab-kitab. Tetapi sungguh
mengherankan, engkau justru mengambil akidah dari bibimu yang bodoh itu."
Ia lalu berkata, "Pola pikirmu adalah pola pikir wahabi. Engkau pergi
berumrah lalu datang dengan membawa kitab-kitab wahabi."
Padahal penulis tidak mengenal sedikitpun tentang wahabi kecuali sekedar penulis dengar dari
para syaikh. Mereka berkata tentang wahabi, "Orang-orang wahabi adalah mereka yang melanggar tradisi orang kebanyakan. Mereka
tidak percaya kepada para wali dan karamah-karamahnya, tidak mencintai Rasul
dan berbagai tuduhan dusta lainnya."
Jika orang-orang wahabi adalah mereka yang percaya hanya kepada pertolongan Allah
semata, dan percaya yang menyembuhkan hanyalah Allah, maka aku wajib mengenal wahabilebih jauh."
Kemudian penulis tanyakan jama'ahnya, sehingga penulis mendapat
informasi bahwa pada setiap Kamis sore mereka menyeleng-garakan pertemuan untuk
mengkaji pelajaran tafsir, hadits dan fiqih.
Bersama anak-anak penulis dan sebagian pemuda intelektual,
penulis mendatangi majelis mereka. Kami masuk ke sebuah ruangan yang besar.
Sejenak kami menanti, sampai tiada berapa lama seorang syaikh yang sudah
berusia masuk ruangan. Beliau memberi salam kepada kami dan menjabat tangan
semua hadirin dimulai dari sebelah kanan, beliau lalu duduk di kursi dan tak
seorang pun berdiri untuk-nya. Penulis berkata dalam hati, "Ini adalah
seorang syaikh yang tawadhu' (rendah hati), tidak suka orang berdiri untuknya
(dihormati)."
Lalu syaikh membuka pelajaran dengan ucapan,
"Sesungguhnya segala puji adalah untuk Allah. Kepada Allah kami memuji, memohon pertolongan dan ampunan�", dan selanjutnya hingga selesai, sebagaimana Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Salam biasa membuka khut-bah dan pelajarannya.
"Sesungguhnya segala puji adalah untuk Allah. Kepada Allah kami memuji, memohon pertolongan dan ampunan�", dan selanjutnya hingga selesai, sebagaimana Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Salam biasa membuka khut-bah dan pelajarannya.
Kemudian syaikh itu memulai bicara dengan menggunakan bahasa
Arab. Beliau menyampaikan hadits-hadits seraya menjelaskan derajat shahihnya
dan para perawinya. Setiap kali menyebut nama Nabi, beliau mengucapkan shalawat
atasnya. Di akhir pelajaran, beberapa soal tertulis diajukan kepadanya. Beliau
menjawab soal-soal itu dengan dalil dari Al-Qur'anul Karim dan sunnah Nabi r. Beliau berdiskusi dengan hadirin dan tidak menolak setiap
penanya. Di akhir pelajaran, beliau berkata, "Segala puji bagi Allah bahwa
kita termasuk orang-orang Islam dan salaf. Sebagian orang
menuduh kita orang-orang wahabi . Ini termasuk tanaabuzun bil
alqaab(memanggil dengan panggilan-panggilan yang buruk). Allah
melarang kita dari hal itu dengan firmanNya,
"Dan janganlah kamu
panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk." (Al-Hujurat: 11)
Dahulu, mereka menuduh Imam Syafi'i dengan rafidhah. Beliau lalu membantah mereka dengan
mengatakan, "Jika rafidah (berarti) mencintai keluarga Muhammad. Maka hendaknya jin dan
manusia menyaksikan bahwa sesungguhnya aku adalah rafidhah."
Maka, kita juga membantah orang-orang yang menuduh kita wahabi, dengan ucapan salah seorang penyair, "Jika pengikut Ahmad
adalah wahabi. Maka aku berikrar
bahwa sesungguhnya aku wahabi."
Ketika pelajaran usai, kami keluar bersama-sama sebagian para
pemuda. Kami benar-benar dibuat kagum oleh ilmu dan kerendahan hatinya. Bahkan
aku mendengar salah seorang mereka berkata, "Inilah syaikh yang
sesungguhnya!"
A. PENGERTIAN WAHABI
Musuh-musuh tauhid memberi gelar wahabi kepada setiap muwahhid (yang mengesakan Allah), nisbat kepada Muhammad bin Abdul Wahab,
Jika mereka jujur, mestinya mereka mengatakan Muhammadi nisbat kepada namanya
yaitu Muhammad. Betapapun begitu, ternyata Allah menghendaki nama wahabi sebagai nisbat
kepada Al-Wahhab (Yang Maha Pemberi), yaitu salah satu dari nama-nama Allah yang
paling baik (Asmaa'ul Husnaa).
Jika shufi menisbatkan namanya kepada jama'ah yang memakai shuf (kain wol) maka sesungguhnya wahabi menisbatkan diri mereka dengan Al-Wahhab (Yang Maha Pemberi), yaitu Allah yang memberi-kan tauhid dan meneguhkannya untuk berdakwah kepada tauhid.
Jika shufi menisbatkan namanya kepada jama'ah yang memakai shuf (kain wol) maka sesungguhnya wahabi menisbatkan diri mereka dengan Al-Wahhab (Yang Maha Pemberi), yaitu Allah yang memberi-kan tauhid dan meneguhkannya untuk berdakwah kepada tauhid.
B. MUHAMMAD BIN ABDUL WAHAB
Beliau dilahirkan di kota 'Uyainah, Nejed pada tahun 1115 H.
Hafal Al-Qur'an sebelum berusia sepuluh tahun. Belajar kepada ayahandanya
tentang fiqih Hambali, belajar hadits dan tafsir kepada para syaikh dari
berbagai negeri, terutama di kota Madinah. Beliau memahami tauhid dari Al-Kitab
dan As-Sunnah. Perasaan beliau ter-sentak setelah menyaksikan apa yang terjadi
di negerinya Nejed de-ngan negeri-negeri lainnya yang beliau kunjungi berupa
kesyirikan, khurafat dan bid'ah. Demikian juga soal menyucikan dan
mengkultus-kan kubur, suatu hal yang bertentangan dengan ajaran Islam yang
benar.
Ia mendengar banyak wanita di negerinya ber-tawassul dengan pohon kurma yang besar. Mereka berkata, "Wahai pohon
kurma yang paling agung dan besar, aku menginginkan suami sebelum setahun
ini."
Di Hejaz, ia melihat pengkultusan kuburan para sahabat, keluarga
Nabi (ahlul bait), serta kuburan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa
Salam , hal yang sesungguhnya tidak boleh dilakukan kecuali hanya kepada Allah
semata.
Di Madinah, ia mendengar permohonan tolong (istighaatsah) kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Salam , serta
berdo'a (memohon) kepada selain Allah, hal yang sungguh bertentangan dengan
Al-Qur'an dan sabda Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Salam . Al-Qur'an
menegaskan:
"Dan janganlah kamu menyembah
apa-apa yang tidak memberi manfa'at dan tidak (pula) memberi madharat kepadamu
selain Allah, sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, sesungguh-nya kamu
kalau begitu termasuk orang-orang yang zhalim." (Yunus: 106)
Zhalim dalam ayat ini berarti syirik. Suatu kali, Rasulullah
Shalallahu Alaihi Wa Salam berkata kepada anak pamannya, Abdullah bin
Abbas:
"Jika engkau memohon, mohonlah
kepada Allah, dan jika eng-kau meminta pertolongan mintalah pertolongan kepada
Allah." (HR. At-Tirmidzi,
ia berkatahasan shahih)
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab menyeru kaumnya kepada tauhid
dan berdo'a (memohon) kepada Allah semata, sebab Dialah Yang Mahakuasa dan Yang
Maha Menciptakan sedangkan selainNya adalah lemah dan tak kuasa menolak bahaya
dari dirinya dan dari orang lain. Adapun mahabbah (cinta kepada orang-orang shalih), ada-lah dengan mengikuti amal
shalihnya, tidak dengan menjadikannya sebagai perantara antara manusia dengan
Allah, dan juga tidak menja-dikannya sebagai tempat bermohon selain daripada
Allah.
1. Penentangan orang-orang batil terhadapnya:
Para ahli bid'ah menentang keras dakwah tauhid yang dibangun oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab. Ini tidak mengherankan, sebab musuh-musuh tauhid telah ada sejak zaman Rasulullah r. Bahkan mereka merasa heran terhadap dakwah kepada tauhid. Allah berfirman:
"Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat menghe-rankan." (Shaad: 5)
Musuh-musuh syaikh memulai perbuatan kejinya dengan meme-rangi dan menyebarluaskan berita-berita bohong tentangnya. Bahkan mereka bersekongkol untuk membunuhnya dengan maksud agar dak-wahnya terputus dan tak berkelanjutan. Tetapi Allah menjaganya dan memberinya penolong, sehingga dakwah tauhid terbesar luas di Hejaz, dan di negara-negara Islam lainnya.
Meskipun demikian, hingga saat ini, masih ada pula sebagian manusia yang menyebarluaskan berita-berita bohong. Misalnya mere-ka mengatakan, dia (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab) adalah pembuat madzhab yang kelima, padahal dia adalah seorang penganut madzhab Hambali. Sebagian mereka mengatakan, orang-orang wahabi tidak mencintai Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Salam serta tidak bershalawat atasnya. Mereka anti bacaan shalawat.
Padahal kenyataannya, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab telah menulis kitab "Mukhtashar Siiratur Rasuul Shalallahu Alaihi Wa Salam ". Kitab ini bukti sejarah atas kecintaan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab kepada Rasulullah r. Mereka mengada-adakan berbagai cerita dusta tentang Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, suatu hal yang karenanya mereka bakal dihisab pada hari Kiamat.
Seandainya mereka mau mempelajari kitab-kitab beliau dengan penuh kesadaran, niscaya mereka akan menemukan Al-Qur'an, hadits dan ucapan sahabat sebagai rujukannya.
Seseorang yang dapat dipercaya memberitahukan kepada penulis, bahwa ada salah seorang ulama yang memperingatkan dalam penga-jian-pengajiannya dari ajaran wahabi. Suatu hari, salah seorang dari hadirin memberinya sebuah kitab karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab. Sebelum diberikan, ia hilangkan terlebih dahulu nama pengarangnya. Ulama itu membaca kitab tersebut dan amat kagum dengan kandungannya. Setelah mengetahui siapa penulis buku yang dibaca, mulailah ia memuji Muhammad bin Abdul Wahab.
Para ahli bid'ah menentang keras dakwah tauhid yang dibangun oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab. Ini tidak mengherankan, sebab musuh-musuh tauhid telah ada sejak zaman Rasulullah r. Bahkan mereka merasa heran terhadap dakwah kepada tauhid. Allah berfirman:
"Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat menghe-rankan." (Shaad: 5)
Musuh-musuh syaikh memulai perbuatan kejinya dengan meme-rangi dan menyebarluaskan berita-berita bohong tentangnya. Bahkan mereka bersekongkol untuk membunuhnya dengan maksud agar dak-wahnya terputus dan tak berkelanjutan. Tetapi Allah menjaganya dan memberinya penolong, sehingga dakwah tauhid terbesar luas di Hejaz, dan di negara-negara Islam lainnya.
Meskipun demikian, hingga saat ini, masih ada pula sebagian manusia yang menyebarluaskan berita-berita bohong. Misalnya mere-ka mengatakan, dia (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab) adalah pembuat madzhab yang kelima, padahal dia adalah seorang penganut madzhab Hambali. Sebagian mereka mengatakan, orang-orang wahabi tidak mencintai Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Salam serta tidak bershalawat atasnya. Mereka anti bacaan shalawat.
Padahal kenyataannya, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab telah menulis kitab "Mukhtashar Siiratur Rasuul Shalallahu Alaihi Wa Salam ". Kitab ini bukti sejarah atas kecintaan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab kepada Rasulullah r. Mereka mengada-adakan berbagai cerita dusta tentang Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, suatu hal yang karenanya mereka bakal dihisab pada hari Kiamat.
Seandainya mereka mau mempelajari kitab-kitab beliau dengan penuh kesadaran, niscaya mereka akan menemukan Al-Qur'an, hadits dan ucapan sahabat sebagai rujukannya.
Seseorang yang dapat dipercaya memberitahukan kepada penulis, bahwa ada salah seorang ulama yang memperingatkan dalam penga-jian-pengajiannya dari ajaran wahabi. Suatu hari, salah seorang dari hadirin memberinya sebuah kitab karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab. Sebelum diberikan, ia hilangkan terlebih dahulu nama pengarangnya. Ulama itu membaca kitab tersebut dan amat kagum dengan kandungannya. Setelah mengetahui siapa penulis buku yang dibaca, mulailah ia memuji Muhammad bin Abdul Wahab.
2. Dalam sebuah hadits disebutkan:
"Ya Allah, berilah keberkahan kepada kami di negeri Syam, dan di negeri Yaman. Mereka berkata, 'Dan di negeri Nejed.' Rasu-lullah berkata, 'Di sana banyak terjadi berbagai kegoncangan dan fitnah, dan di sana (tempat) munculnya para pengikut setan." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Ibnu Hajar Al-'Asqalani dan ulama lainnya menyebutkan, yang dimaksud Nejed dalam hadits di atas adalah Nejed Iraq. Hal itu terbukti dengan banyaknya fitnah yang terjadi di sana. Kota yang juga di situ Al-Husain bin Ali radhiallaahu anhu dibunuh.
Hal ini berbeda dengan anggapan sebagian orang, bahwa yang dimaksud dengan Nejed adalah Hejaz, kota yang tidak pernah tampak di dalamnya fitnah sebagaimana yang terjadi di Iraq. Bahkan seba-liknya, yang tampak di Nejed Hejaz adalah tauhid, yang karenanya Allah menciptakan alam, dan karenanya pula Allah mengutus para rasul.
"Ya Allah, berilah keberkahan kepada kami di negeri Syam, dan di negeri Yaman. Mereka berkata, 'Dan di negeri Nejed.' Rasu-lullah berkata, 'Di sana banyak terjadi berbagai kegoncangan dan fitnah, dan di sana (tempat) munculnya para pengikut setan." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Ibnu Hajar Al-'Asqalani dan ulama lainnya menyebutkan, yang dimaksud Nejed dalam hadits di atas adalah Nejed Iraq. Hal itu terbukti dengan banyaknya fitnah yang terjadi di sana. Kota yang juga di situ Al-Husain bin Ali radhiallaahu anhu dibunuh.
Hal ini berbeda dengan anggapan sebagian orang, bahwa yang dimaksud dengan Nejed adalah Hejaz, kota yang tidak pernah tampak di dalamnya fitnah sebagaimana yang terjadi di Iraq. Bahkan seba-liknya, yang tampak di Nejed Hejaz adalah tauhid, yang karenanya Allah menciptakan alam, dan karenanya pula Allah mengutus para rasul.
3. Sebagian ulama yang adil sesungguhnya menyebutkan:
Bahwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab adalah salah se-orang mujaddid(pembaharu) abad dua belas Hijriyah. Mereka menu-lis buku-buku tentang beliau. Di antara para pengarang yang menulis buku tentang Syaikh adalah Syaikh Ali Thanthawi. Beliau menulis buku tentang "Silsilah Tokoh-tokoh Sejarah", di antara mereka terdapat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dan Ahmad bin 'Irfan.
Dalam buku tersebut beliau menyebutkan, akidah tauhid sampai ke India dan negeri-negeri lainnya melalui jama'ah haji dari kaum muslimin yang terpengaruh dakwah tauhid di kota Makkah. Karena itu, kompeni Inggris yang menjajah India ketika itu, bersama-sama dengan musuh-musuh Islam memerangi akidah tauhid tersebut. Hal itu dilakukan karena mereka mengetahui bahwa akidah tauhid akan menyatukan umat Islam dalam melawan mereka.
Selanjutnya mereka mengomando kepada kaum Murtaziqah agar mencemarkan nama baik dakwah kepada tauhid. Maka mereka pun menuduh setiap muwahhidyang menyeru kepada tauhid dengan kata wahabi. Kata itu mereka maksudkan sebagai padanan dari tukang bid'ah, sehingga memalingkan umat Islam dari akidah tauhid yang menyeru agar umat manusia berdo'a hanya semata-mata kepada Allah. Orang-orang bodoh itu tidak mengetahui bahwa kata wahabi adalah nisbat kepada Al-Wahhaab (yang Maha Pemberi), yaitu salah satu dari Nama-nama Allah yang paling baik (Asma'ul Husna) yang memberikan kepadanya tauhid dan menjanjikannya masuk Surga.
Bahwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab adalah salah se-orang mujaddid(pembaharu) abad dua belas Hijriyah. Mereka menu-lis buku-buku tentang beliau. Di antara para pengarang yang menulis buku tentang Syaikh adalah Syaikh Ali Thanthawi. Beliau menulis buku tentang "Silsilah Tokoh-tokoh Sejarah", di antara mereka terdapat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dan Ahmad bin 'Irfan.
Dalam buku tersebut beliau menyebutkan, akidah tauhid sampai ke India dan negeri-negeri lainnya melalui jama'ah haji dari kaum muslimin yang terpengaruh dakwah tauhid di kota Makkah. Karena itu, kompeni Inggris yang menjajah India ketika itu, bersama-sama dengan musuh-musuh Islam memerangi akidah tauhid tersebut. Hal itu dilakukan karena mereka mengetahui bahwa akidah tauhid akan menyatukan umat Islam dalam melawan mereka.
Selanjutnya mereka mengomando kepada kaum Murtaziqah agar mencemarkan nama baik dakwah kepada tauhid. Maka mereka pun menuduh setiap muwahhidyang menyeru kepada tauhid dengan kata wahabi. Kata itu mereka maksudkan sebagai padanan dari tukang bid'ah, sehingga memalingkan umat Islam dari akidah tauhid yang menyeru agar umat manusia berdo'a hanya semata-mata kepada Allah. Orang-orang bodoh itu tidak mengetahui bahwa kata wahabi adalah nisbat kepada Al-Wahhaab (yang Maha Pemberi), yaitu salah satu dari Nama-nama Allah yang paling baik (Asma'ul Husna) yang memberikan kepadanya tauhid dan menjanjikannya masuk Surga.
Langganan:
Postingan (Atom)







